Bontang Dalam Angka 2018

Ulasan Bontang Dalam Angka Periode Th 2018

ULASAN UMUM

GeografiPemerintahanDemografi

Kota Bontang terletak antara 117°23′ sampai dengan 117°38′ Bujur Timur dan 0°01′ sampai dengan 0°12′ Lintang Utara. Wilayah Kota Bontang merupakan wilayah pesisir Kalimantan Timur berbatasan dengan Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur di sebelah utara dan barat, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Marang Kayu Kabupaten Kutai Kartanegara dan di sebelah timur berbatasan langsung dengan selat Makassar yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II) dan internasional sehingga menguntungkan dalam interaksi wilayah Kota Bontang dengan wilayah lain di luar Kota Bontang dalam skala nasional, regional, maupun internasional.

Secara administrasi, semula Kota Bontang merupakan kota administratif sebagai bagian dari Kabupaten Kutai dan menjadi Daerah Otonom berdasarkan Undang-Undang No. 47 Tahun 1999 tentang pemekaran Propinsi dan Kabupaten, bersama-sama dengan Kabupaten Kutai Timur, Kutai Barat dan Kabupaten Kutai Kertanegara. Sejak disahkannya Peraturan Daerah Kota Bontang No. 17 tahun 2002 tentang Pembentukan Organisasi Kecamatan Bontang Barat, pada tanggal 16 Agustus 2002, Kota Bontang terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Bontang Selatan, Kecamatan Bontang Utara, dan Kecamatan Bontang Barat. Adapun luas wilayah Kota Bontang 161,86 km2, dengan wilayah terluas yaitu Kecamatan Bontang Selatan (111,59 km2), disusul Kecamatan Bontang Utara (32,33 km2) dan Kecamatan Bontang Barat (17,94 km2).

 

a.  Administrasi Pemerintahan

Sejak disahkannya Peraturan Daerah Kota Bontang No. 17 Tahun 2002, secara administratif wilayah Kota Bontang terbagi menjadi tiga (3) kecamatan yaitu Kecamatan Bontang Selatan, Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Barat. Adapun Kelurahan yang ada ditiap masing-masing Kecamatan adalah sebagai berikut :

  1. Kecamatan Bontang Selatan terdiri dari 6 Kelurahan, yaitu:
    1. Kelurahan Bontang Lestari dengan 19 Rukun Tetangga (RT);
    2. Kelurahan Satimpo dengan 25 Rukun Tetangga (RT);
    3. Kelurahan Berbas Pantai dengan 24 Rukun Tetangga (RT);
    4. Kelurahan Berbas Tengah dengan 62 Rukun Tetangga (RT);
    5. Kelurahan Tanjung Laut dengan 38 Rukun Tetangga (RT);
    6. Kelurahan Tanjung Laut Indah dengan 33 Rukun Tetangga (RT).
  2. Kecamatan Bontang Utara terdiri dari 6 Kelurahan, yaitu:
    1. Kelurahan Bontang Kuala dengan 20 Rukun Tetangga (RT);
    2. Kelurahan Bontang Baru dengan 28 Rukun Tetangga (RT);
    3. Kelurahan Api-Api dengan 42 Rukun Tetangga (RT);
    4. Kelurahan Gunung Lai dengan 45 Rukun Tetangga (RT);
    5. Kelurahan Loktuan dengan 52 Rukun Tetangga (RT);
    6. Kelurahan Guntung dengan 18 Rukun Tetangga (RT).
  3. Kecamatan Bontang Barat terdiri dari 3 kelurahan, yaitu:
    1. Kelurahan Kanaan dengan 12 Rukun Tetangga (RT);
    2. Kelurahan Gunung Telihan dengan 30 Rukun Tetangga (RT);
    3. Kelurahan Belimbing dengan 51 Rukun Tetangga (RT).

b.  Aparatur Negara

Pada periode 2016–2021, Kota Bontang berada di bawah kepemimpinan Walikota  Dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.OG dan Wakil Walikota Basri Rase yang mempunyai visi untuk “Menguatkan Bontang sebagai Kota Meritim Berkebudayaan Industri yang bertumpu pada kualitas Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Hidup untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Dalam melaksanakan tugasnya, walikota dan wakil walikota dibantu oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terdiri dari staf ahli perangkat daerah dan perangkat kecamatan (3 kecamatan dengan 15 kelurahan) maupun Lembaga Teknis Daerah.

Adapun perangkat daerah Kota Bontang, antara lain:

  1. Sekretariat Daerah
  2. Bagian Hukum
  3. Bagian Humas dan Protokol
  4. Bagian Layanan Pengadaan
  5. Bagian Organisasi
  6. Bagian Pemerintahan Umum
  7. Bagian Sosial dan Ekonomi
  8. Bagian Tata Usaha
  9. Bagian Umum
  10. Sekretariat DPRD
  11. Sekretariat Korpri
  12. Sekretariat Komisi Pemilihan Umum (KPU)
  13. Inpektorat Daerah
  14. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan
  15. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
  16. Badan Penanggulangan Bencana Daerah
  17. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah
  18. Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan
  19. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
  20. Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana
  21. Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian
  22. Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik
  23. Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Perdagangan
  24. Dinas Lingkungan Hidup
  25. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota
  26. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan
  27. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata
  28. Dinas Penanaman Modal, Tenaga Kerja dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
  29. Dinas Pendidikan
  30. Dinas Perhubungan
  31. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
  32. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan
  33. Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat
  34. Satuan Polisi Pamong Praja
  35. RSUD Taman Husada
  36. Kecamatan Bontang Selatan
  37. Kecamatan Bontang Utara
  38. Kecamatan Bontang Barat.

Selain Pegawai Negeri Sipil Daerah, untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat sektor pemerintahan Kota Bontang juga didukung oleh instansi vertikal.

Ada 12 instansi vertikal yang ada di Kota Bontang, yaitu:

  1. Kodim 0908 Bontang;
  2. Den Arhanud Rudal;
  3. Polres Bontang;
  4. Kementrian Agama;
  5. Pengadilan Agama;
  6. Kejaksaan Negeri;
  7. Pengadilan Negeri;
  8. Badan Pertanahan Nasional;
  9. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang;
  10. Kantor Pelayanan Perpajakan;
  11. Balai Taman Nasional Kutai;

c.  Administrasi Kepegawaian

Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Bontang pada tahun 2017 sebanyak 2.869 orang, dimana sebagian besar dari mereka merupakan pegawai golongan III, yaitu sebesar 52,42% (1.504 orang). Untuk pegawai golongan II berjumlah 917 orang atau sebesar 31.96% dan pegawai golongan IV sebesar 398 orang atau sekitar 13,87% dan sisanya merupakan pegawai golongan I.

Dilihat dari jenjang pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan, sebagian besar PNS di Kota Bontang merupakan lulusan tingkat Sarjana/Doktor/Ph.d, yaitu sebesar 54,65%, diikuti oleh lulusan SMA/sederajat 22,52%, lulusan Diploma/Sarjana Muda 20,49% dan sisanya merupakan lulusan SMP ke bawah.

Hingga Tahun 2017, Penduduk Kota Bontang telah mencapai 170.611 jiwa atau naik sebesar 3,74 persen dari tahun sebelumnya. Dilihat dari komposisi penduduk Kota Bontang terdiri dari penduduk perempuan sebesar 81.331 jiwa (47,67%) dan penduduk laki-laki sebesar 89.280 jiwa (52,33%).

Ditinjau berdasarkan kecamatan, Bontang Utara merupakan kecamatan dengan penduduk terbesar. Pada tahun 2017 penduduk Kecamatan Bontang Utara mencapai 67.883 jiwa. Hal ini dimaklumi karena Kecamatan Bontang Utara merupakan pusat pemerintahan sejak berdirinya Kota Bontang hingga  tahun 2014, dimana pada tahun 2014 pusat pemerintahan dipindahkan ke Kecamatan Bontang Selatan. Sehingga penduduk lebih terkonsentrasi pada Kecamatan Bontang Utara, ditambah lagi dengan adanya pusat perbelanjaan dan pusat Industri Pupuk Kaltim. Sementara itu Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat memiliki penduduk masing-masing sebesar 66.755 jiwa dan 35.018 jiwa.

ULASAN SOSIAL BUDAYA

KesehatanPendidikan,Kebudayaan Nasional, Pemuda dan OlahragaKesejahteraan SosialAgama

Di Kota Bontang sendiri pada tahun 2017 tercatat terdapat sebanyak 5 Rumah Sakit, 3 Klinik Bersalin, 6 Puskesmas, 119 Posyandu, 11 Klinik/Balai Kesehatan, 2 Puskesmas Pembantu, dan 38 Praktik Dokter Keluarga. Jika dibandingkan tahun sebelumnya 2016, jumlah praktek dokter keluarga mengalami penambahan sebanyak 7 unit yang dimana 31 unit sebelumnya. Fasilitas yang lainnya tetap sama jumlahnya.

Selain fasilitas kesehatan, fasilitas pendukung seperti apotek, toko obat dan gedung farmasi juga sangat penting. Di Kota Bontang pada tahun 2017 terdapat sebanyak 19 apotek, 8 toko obat, dan 1 gudang farmasi yang kesemuanya tersebar diseluruh kecamatan.

Selain fasilitas kesehatan, hingga tahun 2017 Kota Bontang juga memiliki tenaga kesehatan 36 dokter spesialis, 119 dokter umum, 26 dokter gigi, tenaga keperawatan 549, 125 tenaga kebidanan, 65 tenaga kefarmasian, dan 16 ahli gizi yang semuanya tersebar diseluruh kecamatan.

Adapun bentuk sosialisasi tentang kesehatan merupakan elemen yang tidak dapat ditinggalkan, seperti sosialisai tentang imunisasi pada balita, KB, dan juga penyakit menular seksual. Menurut Dinas Kesehatan Kota Bontang, pada tahun 2017 terdapat Kejadian Luar Biasa penyakit Difteri. Tercatat terdapat 6 kasus difteri yang tersebar di beberapa kelurahan, dengan 0 korban meninggal. Setelah terjadi KLB, gerakan imunisasi DPT langsung diselenggarakan di seluruh kelurahan di Kota Bontang. Adapun berikut persentase balita pernah imunisasi kurun waktu dua tahun terakhir. Dapat dikatakan kesadaran untuk mengimunisasi balita di Kota Bontang mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2016.

Persentase penduduk Kota Bontang yang mengalami keluhan gangguan kesehatan pada tahun  2017 adalah sebesar 23,46 persen. Angka ini terus menurun sejak dua tahun belakangan. Jika dibanding dengan tahun 2016 keluhan kesehatan turun sekitar 0,46 persen. Apabila dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, terlihat bahwa persentase penduduk perempuan yang mengalami keluhan kesehatan selalu lebih tinggi dari pada persentase penduduk laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan. Hal ini bisa disebabkan salah satunya karena proses kehamilan dan menstruasi.

Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita usia 10 tahun ke atas yang pernah menikah dan rata-rata jumlah anak yang masih hidup pada saat pencacahan dilaksanakan.  Terlihat bahwa rata-rata jumlah anak lahir hidup yang dimiliki oleh seorang wanita yang pernah menikah di Kota Bontang adalah sekitar 2-3 orang anak. Sedangkan rata-rata anak yang masih hidup juga berkisar antara 2-3 orang, atau dengan kata lain tingkat kematian anak di Kota Bontang bisa dikatakan cukup rendah.

Di Kota Bontang sendiri pada tahun 2017, jumlah sekolah tingkat TK sebanyak 52 unit, setingkat SD sebanyak 56, setingkat SMP sebanyak 29 dan setingkat SMA sebesar 11.

Selain terdapat sekolah mulai tingkat TK sampai dengan SMA, di Kota Bontang juga terdapat perguruan tinggi swasta sebanyak 4 unit yang tersebar di Kecamatan Bontang Utara dan Bontang Barat.

Adapun jumlah murid yang tercatat pada tingkat TK sebesar 428 murid, SD sebesar 942 murid, SMP sebesar 524 murid. Selain memperhatikan jumlah fasilitas sekolah, rasio guru-murid juga perlu diperhatikan. Rasio murid-guru merupakan salah satu indikator yang menggambarkan beban kerja seorang guru terhadap muridnya. Rasio ini juga mencerminkan mutu pendidikan di kelas, karena semakin besar angka ini berarti beban kerja seorang guru semakin berat pula, dan pengawasan atau kontrol yang dilakukan terhadap murid akan berkurang. Adapun rasio murid-guru di Kota Bontang bervariasi menurut jenjang pendidikan. Rasio murid-guru pada jenjang SD Negeri di tahun 2017 adalah sebesar 23 yang berarti seorang guru mengampu sebanyak 23 murid. Sedangkan pada SD Swasta sebesar 17 artinya seorang guru mengampu sebanyak 17 murid. Untuk rasio-guru murid adalah sebesar 12, dimana satu guru dapat mengampu 12 murid.

Pada jenjang SMP dan sederajat, rasio murid-guru sebesar 17 untuk SMP Negeri, 15 untuk SMP swasta, dan 11 MTs swasta. Rasio murid-guru pada sekolah negeri rata-rata lebih besar dibandingkan dengan sekolah swasta. Begitu pula pada jenjang SMA di tahun 2016, dimana rasio murid-guru sebesar 15 untuk SMA negeri, 12 untuk SMA swasta, 10 SMK negeri, 13 SMK swasta, 14 MA negeri, dan 3 MA swasta. Secara keseluruhan, rasio guru-murid di Kota Bontang masih dalam taraf yang wajar. Tidak adanya guru yang memiliki beban mengampu murid yang terlalu banyak. Sehingga dapat dikatakan kegiatan ajar mengajar di Kota Bontang dapat diharapkan maksimal, karena idealnya rasio antara murid dan guru.

Hingga tahun 2017, mayoritas penduduk Kota Bontang telah menamatkan pendidikan minimal SLTP dengan angka mencapai lebih dari 75 persen. Secara detil, dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa penduduk Kota Bontang yang telah berpendidikan sarjana terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 angkanya mencapai 12,52, meningkat tipis dari tahun sebelumnya.

Penduduk dikatakan miskin apabila pengeluaran per kapita dibawah standar garis kemiskinan. Adapun Garis Kemiskinan (GK) terbentuk atas Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Adapun Garis Kemiskinan Kota Bontang tahun 2017 adalah sebesar 542.985 rupiah. Jika dilihat trend  satu dekade terakhir,  garis kemiskinan Kota Bontang terus mengalami kenaikan dari 194.678 rupiah pada tahun 2007 menjadi 542.985 rupiah di tahun 2017.

Dari garis kemiskinan dapat pula dihitung persentase penduduk miskin yaitu proporsi penduduk yang pengeluran per kapita per bulannya kurang dari garis kemiskinan. Adapun persentase penduduk miskin di Kota Bontang tahun 2017 adalah sebesar 5,16 persen. Dalam satu dekade terakhir, persentase penduduk miskin di Kota Bontang terus mengalami penurunan. Tahun 2006 tercatat bahwa persentase penduduk miskin sebesar 7,86 persen, dapat dikatakan dalam kurun sepuluh tahun terakhir persentase penduduk miskin berkurang sebesar 2,7 persen.

ULASAN SUMBER DAYA ALAM

PertanianKehutananKelautanPerikananPeternakanPerkebunanPertambangan dan EnergiLingkungan Hidup,Tata Ruang dan Pertanahan

Lahan sawah di Kota Bontang secara keseluruhan merupakan lahan sawah non irigasi karena sebagian besar atau dapat dikatakan secara keseluruhan sumber pengairannya berasal dari tadah hujan. Luas lahan sawah total adalah 74 ha yang tersebar di tiga kecamatan. Kecamatan Bontang Selatan merupakan kecamatan terbesar yang memiliki lahan sawah yaitu seluas 66 ha dan Kecamatan Bontang Utara merupakan kecamatan terkecil luas lahan sawahnya yang hanya 1 ha, sedangkan Kecamatan Bontang Barat memiliki luas lahan sawah sebesar 7 ha. Luas lahan sawah di Kota Bontang tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya baik yang berupa lahan sawah irigasi maupun lahan sawah non irigasi.

Kawasan berikutnya adalah tegal/kebun, ladang/huma dan lahan yang sementara tidak diusahakan di Kota Bontang. Untuk kawasan tegal/kebun luas totalnya adalah 895 ha dimana sebagian besar berada di Kecamatan Bontang Selatan yang luasnya mencapai 90,39% dari total luas keseluruhan atau sebesar 809 ha. Kawasan selanjutnya adalah ladang/huma yang luasnya hampir dua kali lipat dari luas tegal/kebun, luas total dari ladang/huma di Kota Bontang adalah 1.620 ha dimana bagian terluasnya masih berada di wilayah Kecamatan Bontang Selatan yang mencapai 80% dari luas keseluruhan atau sebesar 1.295 ha. Sedangkan lahan yang sementara tidak diusahakan di wilayah Kota Bontang adalah sebesar 74 ha dimana keseluruhan letaknya berada di Kecamatan Bontang Selatan.

  • Tanaman Pangan

Wilayah di Kota Bontang yang ditanami padi hanya ada di dua kecamatan yaitu Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat. Luas panen padi sawah di Kota Bontang pada tahun 2017 sebesar 75,8 ha dimana 69,8 ha berada di kecamatan Bontang Selatan sedangkan di kecamatan Bontang Barat hanya seluas 6 ha. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya luas panen padi sawah total hanya mencapai  25 ha dimana 22 ha di kecamatan Bontang Selatan dan 3 ha di Kecamatan Bontang Barat.

Produktivitas padi sawah Kota Bontang pada tahun 2017 adalah sebesar 34,04 kuintal/ha nilai ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 33,2 kuintal/ha. Hal yang sama juga terjadi pada komoditas padi ladang, pada tahun 2017 produktivitasnya sebesar 16 kuintal/ha. Angka ini juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 10 kuintal/ha.

Palawija merupakan komoditi tanaman bahan makanan lain selain padi yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Bontang. Komoditas palawija yang ada di Kota Bontang mencakup Pjagung,kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar. Luas panen palawija mengalami fluktuasi yang relatif meningkat pada tahun 2017 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Komoditas jagung merupakan palawija yang paling mendominasi di Kota Bontang dan komoditas ini hanya ada di Kecamatan Bontang Selatan saja, dengan luas panen pada tahun 2017 mencapai 17 ha meningkat  nilainya dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 14 ha. Peningkatan ini berbanding lurus dengan produksinya. Pada tahun 2017 produksi jagung di Kota Bontang adalah sebesar 580,4 kuintal, nilai ini juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 530 kuintal. Peningkatan luas panen tidak sebanding dengan peningkatan produksinya, sehingga berpengaruh pada angka produktivitas komoditi ini. Pada tahun 2017 produktivitas komoditas jagung adalah sebesar 34,12 kuintal/ha nilai ini relatif mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 37,86 kuintal/ha.

Komoditas selanjutnya adalah ubi kayu, luas panen pada tahun 2017 mencapai 12 ha meningkat nilainya dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 6 ha. Komoditi ubi kayu luas panen nya terdapat di ketiga kecamatan di Kota Bontang dimana luas panen di Kecamatan Bontang Selatan sebesar 6 ha, Kecamatan Bontang Utara sebesar 4 ha dan di Kecamatan Bontang Barat sebesar 2 ha. Peningkatan ini berbanding lurus dengan produksinya, pada tahun 2017 produksi ubi kayu di Kota Bontang adalah sebesar 3,19 ton nilai ini juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 1,34 ton. Produksi ini tersebar di seluruh kecamatan dengan Kecamatan Bontang Selatan masih mendominasi sebesar 1,6 ton, Kecamatan Bontang Utara sebesar 1,06 ton dan Kecamatan Bontang Barat sebesar 0,5 ton. Peningkatan luas panen ubi kayu sebanding dengan peningkatan produksinya, sehingga berpengaruh pula pada peningkatan angka produktivitas komoditi ini. Pada tahun 2017 produktivitas komoditas ubi kayu adalah sebesar 266,15 kuintal/ha nilai ini relatif mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 223,33 kuintal/ha.

Selanjutnya komoditas kacang tanah di Kota Bontang, pada tahun 2017 komoditas ini hanya ada di Kecamatan Bontang Selatan dan Bontang Barat saja. Dengan luas panen pada tahun 2017 mencapai 11 ha meningkat nilainya dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 7 ha. Peningkatan ini berbanding lurus dengan produksinya, pada tahun 2017 produksi kacang tanah di Kota Bontang sebesar 150,04 kuintal, nilai ini juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 119,98 kuintal. Peningkatan luas panen kacang tanah tidak sebanding dengan peningkatan produksinya, sehingga berpengaruh pada angka produktivitas komoditi ini. Pada tahun 2017 produktivitas komoditas kacang tanah adalah sebesar  13,64 kuintal/ha nilai ini relatif mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 17,14 kuintal/ha.

Komoditas palawija yang terakhir adalah ubi jalar, pada tahun 2017 komoditas ini hanya ada di Kecamatan Bontang Selatan dan Bontang Barat saja. Dengan luas panen pada tahun 2017 mencapai 6 ha meningkat nilainya dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 4 ha. Peningkatan ini berbanding lurus dengan produksinya, pada tahun 2017 produksi ubi jalar di Kota Bontang sebesar 532,50 kuintal nilai ini juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 330 kuintal. Peningkatan luas panen ubi sebanding dengan peningkatan produksinya, sehingga berpengaruh pada angka produktivitas komoditi ini. Pada tahun 2017 produktivitas komoditas ubi jalar adalah sebesar  88,75 kuintal/ha nilai ini relatif mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 82,5 kuintal/ha.

  • Tanaman Holtikultura

Tanaman pertanian lainnya yang termasuk sebagai tanaman bahan makanan adalah tanaman hortikultura. Komoditas hortikultura merupakan sumber pangan protein nabati, vitamin, bahan baku obat (biofarmaka) dan estetika. Sayur mayur merupakan salah satu komoditi hortikultura yang penting bagi pemenuhan kesehatan penduduk, karena kandungan gizi yang vital untuk kebutuhan hidup ada pada sayuran. Sayuran yang diproduksi di Kota Bontang cukup mendatangkan pendapatan yang memadai bagi petani seperti bawang daun, kembang kol, petsai/sawi, kacang panjang, cabe besar, cabe rawit, jamur,  tomat, terung, buncis, ketimun, kangkung, bayam, melinjo dan petai.

Luas panen tanaman sayuran yang terbesar pada tahun 2017 di Kota Bontang adalah komoditas bayam yaitu 45 ha sedangkan yang terkecil adalah komoditas bucis sebesar 6 ha. Luas panen tanaman sayuran pada tahun 2017 ini secara relatif menunjukkan fluktuasi yang bervariasi dibandingkan dengan tahun sebelumnya untuk masing-masing komoditas. Peningkatan luas panen ditunjukkan oleh komoditas kembang kol, cabe besar, cabe rawit, tomat, kangkung, dan bayam, sedangkan sisanya menunjukkan fluktuasi yang relative tetap dan menurun.

Dilihat dari produksinya, pada tahun 2017 hampir seluruh jenis tanaman hortikultura sayuran menunjukkan penurunan, kecuali komoditas kembang kol yang mengalami kenaikan produksi sebesar 37,5 persen dan komoditas petsai/sawi yang mengalami kenaikan sebesar 5,11 persen. Faktor yang menyebabkan penurunan produksi sayuran secara umum seperti yang dialami oleh sektor pertanian lain adalah karena komoditi sayuran sangat tergantung pada kondisi faktor alam.

Pada tahun 2017 produksi tanaman hortikultura buah-buahan ada yang mengalami peningkatan seperti komoditi alpukat, belimbing, jambu biji, jambu air, nenas, papaya, sawo, sirsak dan melon. Sedangkan komoditi yang mengalami penurunan produksi antara lain jeruk siam/keprok, jeruk besar, nangka/cempedak, mangga, pisang, rambutan, salak, sukun, dan semangka.

Tanaman biofarmaka memberikan sumbangan bagi pemenuhan kebutuhan tanaman obat di Kota Bontang. Tanaman biofarmaka yang diusahakan di Kota Bontang terdiri dari empat komoditas yaitu jahe, laos/lengkuas, kencur, dan kunyit. Pada tahun 2017 seluruh komoditas ditanam diseluruh wilayah kecamatan di Kota Bontang kecuali kencur hanya ditanam di Bontang Selatan. Luas panen tanaman biofarmaka pada tahun 2017 ini cenderung mengalami penurunan kecuali kunyit. Luas panen terbesar sebesar 55 ha adalah komoditas jahe, sedangkan terkecil adalah komoditas kencur sebesar 9 ha.

Produksi tanaman jahe dan laos/lengkuas yang ditanam di seluruh wilayah kecamatan di Kota Bontang pada tahun 2017 menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar 118 kg dan 115 kg. Sedangkan untuk komoditas kencur dan kunyit pada tahun 2017 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya masing-masing sebesar 46 kg dan 109 kg.

Pada tahun 2017, jumlah rumah tangga perikanan tangkap di Kota Bontang mencapai 3.181 rumah tangga yang keseluruhannya merupakan rumah tangga perikanan laut. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 3.174 rumah tangga perikanan laut.

Produksi perikanan tangkap untuk subsektor perikanan laut juga mengalami kenaikan pada tahun 2017 ini yaitu sebesar 20,77 ribu ton, nilai ini meningkat sebesar 3,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah Kota Bontang yang berada di pesisir adalah Bontang Selatan dan Bontang Utara sehingga produksi perikanan tangkap pun terkonsentrasi dikedua wilayah ini saja dengan tingkat persebaran yang relatif sama.

Berdasarkan jenis biota pada perikanan laut, Baronang Lingkis merupakan jenis biota laut yang paling banyak jumlah produksinya di Kota Bontang tahun 2017, yaitu sebesar 3,21 ribu ton. Nilai ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 2,42 ribu ton. Selanjutnya pada urutan berikutnya adalah Tongkol Karai dan Cakalang dengan jumlah produksi berturut-turut adalah sebesar 1,62 ribu ton dan 1,49 ribu ton.

Sektor perikanan budidaya juga menyumbang pendapatan yang tidak sedikit untuk peningkatan ekonomi di Kota Bontang. Jumlah rumah tangga yang terlibat dalam budidaya perikanan pada tahun 2017 adalah sebesar 652 rumah tangga. Jumlah ini relatif menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.059 rumah tangga. Budidaya laut masih mendominasi dengan jumlah 269 rumah tangga, diikuti oleh budidaya kolam dan jaring apung masing-masing sebesar 156 dan 105 rumah tangga.

Jumlah rumah tangga perikanan budidaya tambak menurut kategori besar usahanya dimana pada tahun 2017 secara umum rumah tangga mengusahakan kurang dari 5 ha. Jumlah rumah tangga yang mengusahakan perikanan budidaya tambak dengan kategori kurang dari 2 ha adalah sebesar 41 rumah tangga yang tersebar di Kecamatan Bontang Utara dan Bontang Selatan. Sedangkan yang mengusahakan dengan kategori 2-5 ha adalah sebanyak 4 rumah tangga nilainya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 9 rumah tangga.

Jumlah rumah tangga perikanan budidaya kolam menurut kategori besar usahanya dimana pada tahun 2017 secara umum rumah tangga dikelompokkan menjadi empat kategori usaha yaitu < 0,1 ha, 0,1-0,3 ha, 0,4-0,5 ha, dan > 0,5 ha. Jumlah rumah tangga terbesar yang mengusahakan perikanan budidaya kolam dengan kategori kurang dari 0,1 ha adalah sebesar 117 rumah tangga yang tersebar di Kecamatan Bontang Utara, Bontang Barat dan Bontang Selatan. Sedangkan rumah tangga terkecil yang mengusahakan dengan kategori lebih dari 0,5 ha adalah sebanyak 5 rumah tangga. Nilainya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 44 rumah tangga.

Produksi perikanan budidaya pada tahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 6,4 juta ton. Produksinya didominasi oleh budidaya laut sebesar 6,2 juta ton, hal ini berarti lebih dari 90 persen produksi perikanan budidaya berasal dari budidaya laut. Jenis budidaya laut yang merupakan penyumbang terbesar dari produksi secara keseluruhan ini adalah komoditas rumput laut. Sedangkan sumbangan dari jenis budidaya yang lain kurang dari 10 persen saja.

Produksi perikanan budidaya tambak yang menyumbang 14,5 ton pada tahun 2017 berasal dari sumbangan komoditas Bandeng sebesar 6,1 ton, Udang putih 4,5 ton dan juga udang windu sebesar 3,9 ton. Nilai produksi ini relatif mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 14,7 ton.

Produksi perikanan budidaya kolam yang menyumbang 33,4 ton pada tahun 2017 berasal dari sumbangan komoditas ikan mas sebesar 1,4 ton, ikan nila 2,2 ton, ikan gurami 1,4 ton, ikan lele 27,6 ton dan ikan lainnya 0,8 ton. Nilai produksi ini relatif mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 41,70 ton.

Produksi perikanan budidaya keramba yang menyumbang 17,2 ton pada tahun 2017 berasal dari sumbangan komoditas ikan nila 0,6 ton, ikan lele 15,8 ton dan ikan lainnya 0,8 ton. Nilai produksi ini relatif mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 13,7 ton.

Produksi perikanan budidaya jaring apung yang menyumbang 34,5 ton pada tahun 2017 berasal dari sumbangan komoditas ikan kerapu sebesar 16,6 ton, ikan lele sebesar 8,9 ton, ikan kuwe sebesar 8,1 ton dan ikan lainnya 0,9 ton. Nilai produksi ini relatif mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 39,07 ton.

Sarana penunjang usaha penangkapan ikan dapat dilihat dari dua indikatornya yaitu jumlah perahu/kapal dan juga banyaknya alat penangkapan ikan di Kota Bontang. Perahu/kapal dibedakan menurut jenisnya adalah perahu tanpa motor, perahu motor tempel dan kapal motor. Pada tahun 2017 jumlah perahu tanpa motor adalah sebanyak 117 buah, perahu motor tempel sebanyak 944 buah dan juga kapal motor sebanyak 487 buah. Sedangkan persebaran jumlah perahu/kapal sebanding dengan letak kawasan pesisir suatu kecamatan, dalam hal ini di Kota Bontang Kecamatan Bontang Selatan dan Bontang Utara.

Banyaknya alat penangkap ikan di Kota Bontang pada tahun 2017 adalah sebanyak 2.534 unit, dimana jumlah ini tersebar di Bontang Selatan sebesar 1.341 unit dan Bontang Utara sebesar 1.193 unit. Jenis alat penangkapan ikan di Kota Bontang antara lain pukat cincin, jaring insang, jaring angat, pancing, perangkap, alat pengumpul kerang, alat pengumpul teripang, dan lainnya. Jumlah alat penangkap ikan yang terbesar adalah perangkap, pada tahun 2017 jumlahnya sebesar 1.067 unit jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 1.051 unit. Sedangkan jaring angkat merupakan alat penangkap ikan sebesar 14 unit merupakan jumlah terkecil yang dimiliki oleh masyarakat nelayan tangkap di Kota Bontang.

Populasi ternak di Kota Bontang meliputi ternak besar, ternak kecil dan unggas. Ternak besar yang terdiri dari sapi perah, sapi potong, kerbau, dan kuda. Jumlah ternak besar yang paling banyak adalah sapi potong mencapai 1.132 ekon pada tahun 2017, nilai ini mengalami kenaikan dibandingkan populasi tahun sebelumnya yaitu sebesar 1.059 ekor. Ternak kecil di Kota Bontang meliputi kambing, domba, dan babi, diantara ketiganya babi merupakan komoditas ternak yang terbesar populasinya pada tahun 2017 mencapai 4.309 ekor, nilai ini mengalami peningkatan sebesar 2,91 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 4.187 ekor. Sedangkan untuk komoditas kambing dan domba masing-masing populasinya pada tahun yang sama adalah sebanyak 995 ekor dan 77 ekor. Komoditas peternakan yang tersebar populasinya di seluruh kecamatan hanya sapi potong dan kambing, untuk komoditas peternakan domba hanya berada di Bontang Selatan dan Bontang Barat, sedangkan sisanya hanya berada di Bontang Barat saja.

Kelompok ternak unggas meliputi ayam kampung, ayam petelur, ayam pedaging, ayam arab, itik/itik manila, dan burung puyuh. Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian Kota Bontang dapat dilihat bahwa ayam kampung merupakan jenis unggas yang terbesar populasinya pada tahun 2017 yaitu mencapai 159.776 ekor, nilai ini mengalami peningkatan sebesar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selanjutnya komoditas ayam pedaging mengalami kenaikan yang signifikan pada tahun 2017 tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dimana populasinya pada tahun 2017 mencapai 15.000 ekor. Sedangkan populasi ayam arab merupakan jenis ungas dengan populasi terkecil yang hanya sebanyak 300 ekor pada tahun 2017.

Komoditas Tanaman Perkebunan Tanaman karet, kelapa dan kelapa merupakan komoditi tanaman perkebunan yang cukup dominan di Kota Bontang. Luas tanaman perkebunan pada komoditas kelapa sawit merupakan yang terbesar di Kota Bontang sebesar 51 ha. Sejalan dengan luas tanamannya, produksi tanaman perkebunan terbesar juga diduduki oleh komoditas kelapa sawit sebesar 37,32 ton. Urutan selanjutnya adalah kelapa dan karet masing-masing memiliki luas tanaman perkebunan 39 ha dan 35 ha, sedangkan produksinya berturut-turut sebesar 13,43 ton dan 3,14 ton.

1.   Listrik

Energi listrik merupakan salah satu jenis energi yang sangat dibutuhkan untuk melangsungkan kegiatan produksi perusahaan, lembaga, maupun kehidupan masyarakat. Secara umum, penyedia tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kota Bontang berasal dari PT.PLN (Persero) Area Bontang (meliputi wilayah Bontang dan Kutai Timur)

Berdasarkan data dari PT. PLN (Persero) Area Bontang, produksi listrik Kota Bontang mengalami pada tahun 2017 penurunan yaitu pada nilai 191.244.421 KWh atau menurun sebesar 4,36% dibanding produksi listrik tahun 2016 yang bernilai 199.940.462 KWh. Penurunan ini tentu diiringi dengan menurunnya tenaga listrik yang terjual, yaitu 4,72% dimana listrik yang terjual tahun 2016 sebesar 189.311.835 KWh namun menurun di tahun 2017 menjadi 180.377.105 KWh. Pada tahun 2017 PLN Kota Bontang juga mengalami penyusutan sebesar 0,06%.

Meskipun demikian, seiring meningkatnya kebutuhan listrik dari masyarakat, jumlah pelanggan listrik di ketiga kecamatan di Kota Bontang tahun ke tahunnya selalu meningkat. Peningkatan jumlah pelanggan listrik di Kota Bontang tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 4,26% dibandingkan tahun 2016. Jika melihat dari nilai absolutnya, di Kecamatan Bontang Selatan pada tahun 2017 jumlah pelanggan listrik sebanyak 17.233 pengguna, dimana tahun 2016 jumlah pelanggan sebanyak 16.453 pengguna (4,74%). Di Kecamatan Bontang Utara pada tahun 2017 jumlah pelanggan listrik sebanyak 15.971 pengguna, dimana tahun 2016 jumlah pelanggan sebanyak 15.201 pengguna (5,07%). Terakhir, di Kecamatan Bontang Barat pada tahun 2017 jumlah pelanggan listrik sebanyak  16.250 pengguna, dimana tahun 2016 jumlah pelanggan sebanyak 15.780 pengguna (2,98%).

2.   Air

Sebagian besar wilayah Kota Bontang, kebutuhan air minum dipenuhi dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bontang. Produksi air minum yang dihasilkan PDAM Kota Bontang pada tahun 2017 sebesar 9.256.647 m3, dimana yang terjual sebesar 8.399.420 m3 (91%) dan hilang/bocor 857.227m3 (9%).

Dari produksi Air minum PDAM yang terjual menghasilkan nilai jual sebesar 31 milyar rupiah yang berbayarkan dari 4 kategori pelanggan, yaitu : sosial, nonniaga, niaga, dan khusus. Banyaknya konsumen sosial sebanyak 248 pelanggan dengan volume air yang disalurkan 129.979 m3 dan total nilai uang yang dibayarkan 270,66 juta rupiah.

Jumlah konsumen nonniaga sebanyak 21.671 pelanggan dengan volume air yang disalurkan 7.022.753 m3 dan total nilai uang yang dibayarkan 24,85 milyar rupiah. Banyaknya konsumen niaga sebanyak 2.601 pelanggan dengan volume air yang disalurkan 1.058.771 m3 dan total nilai uang yang dibayarkan 4,96 milyar rupiah. Jumlah konsumen khusus 220 pelanggan dengan volume air yang disalurkan 187.917 m3 dan total nilai uang yang dibayarkan  1,15 milyar rupiah.

3.   Gas

Beberapa wilayah Kota Bontang, kebutuhan bahan bakar untuk rumah tangga maupun niaga yang berasal dari gas kota dipenuhi dari Perusahaan Daerah PT Bontang Migas dan Energi. Produksi gas kota yang dihasilkan PT Bontang Migas pada tahun 2017 sebesar 34,88 mmscf, dimana yang terjual sebesar 33,42 mmscf (95,81%) dan hilang 1,46 mmscf (4,19%). Produksi gas kota yang terjual disalurkan kepada 4.913 pelanggan rumah tangga dan 46 pelanggan niaga. Sehingga total pelanggan gas kota di Kota Bontang sebanyak 4.959 pelanggan.

Sampah adalah semua barang/benda atau sisa barang/benda yang sudah tidak berguna dan terbuang dari kegiatan sehari-hari. Jadi sampah merupakan produk buangan yang pada umumnya berbentuk padat dengan komposisi organik dan anorganik. Khususnya, sampah domestik atau limbah rumah tangga merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya kehidupan manusia. Sampah yang terkumpul dapat menumpuk dan membusuk sehingga sangat mengganggu kesehatan dan mutu estetika dari suatu lingkungan.

Pengelolaan sampah di Kota Bontang ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Bontang. Berdasarkan data dari dinas, perkiraan produksi sampah perhari di Kota Bontang pada tahun 2017 cenderung menurun yaitu berada di nilai 426,54 m3 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan volume sampah yang terangkut perhari sebanyak 418,63 m3, yang berarti 98,15 persen sampah yang terangkut tiap harinya. Jika dilihat berdasarkan wilayah, kecamatan Bontang Selatan adalah kecamatan yang paling banyak memproduksi sampah tiap harinya yaitu sebesar 172,03 m3 dan volume sampah yang terangkut 418,63 m3 setiap hari yang artinya 98,15 persen sampah yang terangkut tiap hari.

Sarana/armada kebersihan yang digunakan untuk mengangkut sampah sebanyak 28 unit truk sampah dan 10 unit gerobak sampah. Jumlah TPS untuk menampung sampah adalah 105 unit. Sedangkan alat berat untuk membantu pengolahan sampah ada 6 unit.

ULASAN INFRASTRUKTUR

Pekerjaan UmumPariwisataPos, Telekomunikasi dan InformatikaPerhubungan dan Transportasi

Salah satu sarana penunjang sektor pariwisata yang sangat diperlukan bagi wisatawan baik nusantara maupun mancanegara adalah hotel dan akomodasi lainnya. Sektor perhotelan dan pariwisata berjalan beriringan dan saling mendukung. Tersedianya tempat menginap yang nyaman dan layak akan menciptakan kondisi yang kondusif bagi pendatang sehingga betah, baik yang berniat untuk tinggal sementara maupun menetap.

Di tengah maraknya penggunaan berbagai teknologi komunikasi modern saat ini, ternyata penggunaan jasa pos sebagai perantara komunikasi masih diminati oleh sebagian penduduk Kota Bontang. Pada tahun 2017 jumlah surat yang terkirim melalui Kantor Pos Kota Bontang sebanyak 24.592 surat dengan tujuan dalam negeri dan 106 surat dengan tujuan luar negeri. Untuk paket pos yang dikirim tercatat sebanyak 6.108 paket, dengan tujuan pengiriman dalam dan luar negeri. Weselpos yang dikirim sebanyak 17.379 juta rupiah, sedangkan yang diterima adalah 4.369 juta rupiah.

Era globalisasi menuntut mobilitas yang serba cepat dan mudah. Mobilitas dan aktivitas masyarakat tidak terlepas dari kebutuhan sarana transportasi yang mencakup mencakup transportasi darat, laut dan udara. Penyediaan sarana dan prasarana transportasi daerah yang memadai akan memperlancar aktivitas perekonomian daerah.

Total panjang jalan di Kota Bontang pada tahun 2017 adalah 206.399 km, dimana 95,60% merupakan jalan kota. Kondisi jalan di Kota Bontang mayoritas masih baik dan panjang jalan yang telah diaspal adalah sepanjang 71.121,50 km.

Selama tahun 2017 kapal dalam negeri yang tambat di pelabuhan Kota Bontang sebanyak 2.253 unit, sedangkan kapal luar negeri yang tambat di pelabuhan Kota Bontang sebanyak 535 unit. Penerbangan di Bandara PT. Badak NGL Kota Bontang tahun 2017 sebanyak 934 keberangkatan dan 952 kedatangan, dengan 30.838 orang penumpang berangkat dan 31.307 orang penumpang datang.

ULASAN EKONOMI

IndustriPerdaganganPengembangan Usaha NasionalLembaga Keuangan dan KoperasiBUMD,Perbankan Daerah dan Lembaga Keuangan Daerah

Berdasarkan data dari Dinas Perdagangan dan Koperasi & UMKM Kota Bontang, banyaknya Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka industri  atau yang biasa disebut ILMEA di Kota Bontang pada tahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu 524 unit dengan 5 unit merupakan ILMEA formal, 519 ILMEA nonformal. Jika dibandingkan dari tahun 2015 hingga 2017, jumlah ILMEA ini cenderung mengalami peningkatan. Namun komposisi untuk ILMEA formal cenderung menurun, dibandingkan ILMEA nonformal.

Meningkatnya jumlah ILMEA ini memberikan dampak positif baik langsung maupun tidak langsung bagi pemerintah Kota Bontang, diantaranya meningkatnya jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan pada industri ini. Pada Tahun 2017 tercatat sebanyak 891 orang tenaga kerja yang dipekerjakan pada usaha/perusahaan ILMEA ini, meningkat 10,14 persen dibandingkan tahun 2016. Selain itu, nilai investasi usaha/perusahaan ILMEA juga mengalami peningkatan dari 11,8 milyar rupiah di tahun 2016 menjadi 12,1 milyar rupiah di tahun 2017.

Untuk Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan atau yang biasa disingkat IKAHH di Kota Bontang juga mengalami peningkatan jumlah tiap tahunnya dimana pada tahun 2017 terdapat 734 unit usaha, yang terdiri dari 2 sektor formal dan 732 sektor nonformal, meningkat 10,71 persen dibandingkan tahun 2016. Meskipun secara total jumlah usaha/perusahaan IKAHH mengalami peningkatan, sebenarnya untuk IKAHH formal mengalami penurunan yang drastis jika dibandingkan tahun 2013, tetapi IKAHH nonformal meningkat tajam.

Terkait jumlah tenaga kerja IKAHH di kota Bontang, meskipun jumlah IKAHH meningkat di tahun 2017, tetapi jumlah tenaga kerja justru mengalami penurunan sebesar 12 orang menjadi 949 orang dibanding tahun 2016. Hal ini bisa terjadi karena efisiensi jumlah tenaga kerja. Nilai investasi yang dihasilkan dari IKAHH di Kota Bontang pada tahun 2017  sebesar Rp 31.920,50 juta. Nilai investasi tersebut juga menurun relatif sedikit dibanding nilai investasi tahun 2016.

Selain ILMEA dan IKAHH, terdapat kategori industri lain, yaitu :

  • Industri Makanan dan Bahan Minuman
  • Industri Minuman
  • Industri Kimia
  • Industri Percetakan
  • Industri Hasil Hutan dan Perkebunan

Jumlah usaha dan tenaga kerja industri makanan dan bahan minuman di Kota Bontang tahun 2017 mendominasi dibanding kategori lainnya, yaitu sebanyak 454 usaha yang menyerap 521 tenaga kerja. Urutan kedua adalah Industri Minuman yaitu sebanyak 235 usaha menyerap 193 pekerja.  Jumlah usaha dan tenaga kerja terbanyak ketiga terdapat pada industri kimia, yaitu sebanyak 39 usaha dengan menyerap 90 tenaga kerja. Yang keempat adalah industri Percetakan dan yang terakhir Industri Hasil Hutan dan Perkebunan. Gambaran tersebut dapat dilihat pada gambar 22 di bawah ini.

Nilai investasi terbesar dari kategori industri selain ILMEA dan IKAHH dihasilkan dari industri minuman sebesar Rp 6,6 M atau sebesar 35% dari nilai investasi total. Kedudukan terbesar kedua berada pada Industri Makanan dan Bahan Makanan sebesar 5,7 milyar rupiah atau sekitar 30% dari nilai investasi total. Nilai investasi terbesar ke-3 dihasilkan dari industri kimia dengan nilai 3,7 milyar rupiah atau sekitar 19% dari nilai investasi total. Sisanya dari industri Percetakan dan Hasil Hutan dan Perkebunan sebesar 3 milyar rupiah atau sekitar 16% dari nilai investasi total. Lihat gambar 23 di bawah ini untuk lebih detail.

Dalam menunjang kebutuhan sehari-hari masyarakat Bontang dibutuhkan sarana dan prasarana perdagangan. Jumlah sarana perdagangan di Kota Bontang tahun 2017 sebanyak 2.154 usaha atau mengalami peningkatan 18 usaha dari tahun 2016. Dari 2.154 usaha paling terbanyak adalah kios pasar sebanyak 1.072 usaha kemudian los pasar 834 usaha, serta toko/store sebanyak 242 toko. Dari segi pedagangnya lebih terpusat di Kecamatan Bontang Utara sebanyak 99 pedagang (2017), serta pedagang menengah 68 pedagang serta pedagang besar sebanyak 18 usaha. Kecamatan Bontang utara lebih terpusat pedagang dikarenakan jumlah penduduk paling banyak adalah Kecamatan Bontang Utara dengan komposisi 40,33% dari total penduduk Kota Bontang.

Dilihat dari segi  aktivitas jumlah perusahaan yang berbadan hukum terdapat 488 usaha di tahun 2017 atau sedikit mengalami penurunan 16 persen. Sedangkan jika dilihat dari segi tipe badan hukum di tahun 2017  jumlah usaha yang berbentuk CV/Firma sebanyak 216 usaha, koperasi 132 usaha, perseroan terbatas sebanyak 120 usaha serta perorangan sebanyak 20 usaha.

Sedangkan dari segi  aktivitas jumlah perusahaan yang berbadan hukum terdapat 488 usaha di tahun 2017 atau sedikit mengalami penurunan 16 persen. Sedangkan jika dilihat dari segi tipe badan hukum di tahun 2017  jumlah usaha yang berbentuk CV/Firma sebanyak 216 usaha, koperasi 132 usaha, perseroan terbatas sebanyak 120 usaha serta perorangan sebanyak 20 usaha.

Kota Bontang sebagai kota dengan perekonomian yang berbasis industri mengakibatkan kota ini cukup aktif dalam perdagangan antar negaranya. Hal ini dikarenakan ada beberapa komoditas industri yang di ekspor ke luar negeri serta kebutuhan impor bahan baku maupun peralatan dan mesin untuk menunjang proses industri beberapa perusahaan. Perdagangan ke luar negeri dengan komposisi terbesar berasal dari sektor migas 90% (2017) dan sektor non migas 10% (2017). Sedangkan nilai impor Kota Bontang cenderung mengalami penurunan, tercatat impor Kota Bontang tahun 2013 mencapai 119 ribu US $ dan 110 ribu US $ di tahun 2017. Dengan komposisi dimana nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impornya maka neraca perdagangan Kota Bontang selalu mengalami surplus tiap tahunnya. Tercatat di tahun 2017 surplus perdagangan mencapai 4 milyar US $. Adanya komoditi Liquid Natural Gas (LNG) yang merupakan komoditas ekspor dengan harga yang tinggi sehingga membentuk nilai ekspor di sektor migas menjadi besar.

Nilai ekspor yang lebih besar tersebut apabila dibandingkan dengan nilai impornya yang jauh lebih rendah menyebabkan perdagangan luar negeri menjadi surplus. Pergerakan surplus perdagangan antar luar negeri memiliki tren yang semakin menurun selama kurun waktu delapan tahun terakhir. Hal tersebut disebabkan karena adanya penurunan nilai ekspor migas terutama komoditi LNG sebagai komoditas terbesar pembentuk nilai ekspor Kota Bontang.

Jika secara persentase surplus terbesar selama kurun waktu 8 tahun terakhir  terjadi di tahun 2017. Hal tersebut akibat dari adanya kenaikan ekspor migas dan menurunnya impor di tahun tersebut.

ULASAN KELOMPOK DATA KEUANGAN DAERAH

Keuangan DaerahProduk Domestik Regional Bruto

Selama kurun waktu hampir delapan belas tahun berdiri sebagai Kota dengan otonomi khusus, Kota Bontang telah banyak menunjukkan perubahan yang cukup signifikan baik dari segi pelayanan, penataan kota serta pembangunan. Hal tersebut dapat terwujud selain tidak lepas dari faktor kepemimpinan Kepala daerah, faktor lain yang tidak boleh dilupakan adalah kinerja keuangan Pemerintah Kota Bontang. Tercatat dari tahun 2013-2017 Pendapatan dan belanja Pemerintah Kota Bontang mengalami tren yang menurun. Sedangkan dari komponen terbesar yang membentuk pendapatan asli daerah Kota Bontang dari tahun 2013-2017 cenderung berasal dari pos lain-lain PAD yang sah, hanya ketika di tahun 2014 dan 2017 pos pajak daerah lebih memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan Pajak Asli Daerah dengan nilai sebesar 49 persen dan 53 persen.

Namun demikian, kemampuan pendapatan asli daerah  Kota Bontang dalam  mendukung otonomi daerahnya masih sangat rendah. Ini dibuktikan dari pola rasio antara pendapatan asli daerah Kota Bontang dengan dana perimbangan/pendapatan transfer selama lima tahun anggaran 2013-2017  masih memiliki rasio yang berkisar antara 0,10-0,19 artinya daerah masih belum mampu sepenuhnya melaksanakan otonomi daerahnya yang berasal dari pendapatan asli daerah secara murni.

Secara umum terdapat realisasi pendapatan yang cenderung menurun dari tahun 2013 ke 2017 dikarenakan kecenderungan pos dana perimbangan dan juga pendapatan yang berasal dari lain-lain pendapatan yang sah menurun. Di tahun 2013 tercatat pos dana perimbangan mencapai 1 milyar rupiah dan hanya 717 juta rupiah di tahun 2017. Komponen bagi hasil pajak/sumber daya alam yang porsinya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun menyebabkan pos dana perimbangan juga ikut menurun.

Dalam hal belanja pemerintah Kota Bontang lebih banyak digunakan untuk belanja tidak langsung 68% (2017) dan belanja langsung  sebesar 32% (2017). Sedangkan untuk belanja tidak langsung porsi terbesar digunakan untuk belanja pegawai. Porsi belanja pegawai tiap tahun pun kian meningkat seiring dengan jumlah pegawai. Tercatat porsi belanja pegawai Kota Bontang  di tahun 2013 sebesar 74 persen dan 92 persen di tahun 2017.

Sedangkan rasio belanja tidak langsung Pemerintah Daerah Kota Bontang lumayan banyak melakukan investasi pada pembangunan dan belanja aset tetap. Pembelanjaan dari belanja tidak langsung diprioritaskan pada kebutuhan operasi (Belanja barang dan jasa), bahkan mencapai 41 persen pada tahun anggaran 2013 dan 53,7 persen pada tahun anggaran 2017

Ekonomi Kota Bontang selama Tahun 2013-2017 mengalami pertumbuhan yang cukup fluktuatif. Tercatat di tahun 2013 tumbuh – 5,72% dari tahun sebelumnya, dilanjutkan di tahun 2014 perekonomian meningkat meskipun masih melambat sebesar -3,23%. Baru di tahun 2015 perekonomian Kota Bontang mulai meningkat positif sebesar 4,36% dibanding tahun sebelumnya. Namun di tahun 2016 perekonomian Kota Bontang kembali melambat sebesar -1,38%. Sedangkan di tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Kota Bontang kembali mengalami sedikit peningkatan sebesar 0,68%. Dengan persentase industri migas sebagai pembentuk nilai PDRB terbesar di Kalimantan Timur lebih dari 80 persen per tahunnya, maka pergerakan dari pertumbuhan ekonomi Kota Bontang sangat dipengaruhi oleh pergerakan produksi di sektor industri migas. Jadi pertumbuhan ekonomi yang rendah maupun tinggi setiap tahunnya lebih banyak dipengaruhi dari kinerja industri pengolahan LNG.

Berdasarkan lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan ekonomi Kota Bontang dipengaruhi oleh kinerja  sektor pertambangan dan penggalian. Adanya kenaikan lifting migas menjadi pemicu naiknya pertumbuhan di sektor pertambangan. Selain itu peningkatan pertumbuhan yang cukup besar juga terdapat di sektor pertanian, konstruksi, penyediaan akomodasi dan makan minum. Beberapa sektor yang  mengalami deselerasi pertumbuhan antara lain lapangan usaha informasi dan komunikasi, jasa keuangan dan asuransi, serta administrasi dan pemerintahan. Sedangkan sektor industri pengolahan sebagai penyumbang PDRB terbesar mengalami pertumbuhan yang sedikit lebih meningkat dari tahun sebelumnya meskipun pertumbuhannya masih dirasa melambat. Hal tersebut dikarenakan adanya kenaikan produksi di beberapa industri pengolahan non migas namun terjadi penurunan produksi migas khususnya komoditi LNG.

Jika dilihat dari kinerja pertumbuhan ekonomi dengan mengeluarkan sektor migas maka kita dapat melihat pertumbuhan ekonomi Kota Bontang terus tumbuh positif selama kurun waktu tahun 2013-2017. Di tahun 2013 ekonomi Kota Bontang tumbuh 8,64% kemudian melambat di tahun 2014 sebesar 3,70% kemudian meningkat dengan cepat di tahun 2015 hingga 5,87%.  Namun di tahun 2016 pertumbuhan kembali positif meskipun tidak secepat tahun sebelumnya sebesar 0,14 persen dan kemudian meningkat 1,36 persen di tahun 2017. Baik perekonomian dengan migas maupun non migas lebih banyak di topang oleh kinerja dari sektor industri. Jika sektor migas dipengaruhi oleh kinerja dari industri migas  maka sektor non migas dipengaruhi oleh kinerja industri non migas seperti pergerakan produksi dari industri-industri bahan kimia.

Jika dilihat nilai PDRB tahun 2017 antar kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur, maka Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki nilai PDRB terbesar yaitu 148 milyar rupiah, di susul oleh Kabupaten Kutai Timur sebesar 117 milyar rupiah. Adanya produksi di sektor pertambangan mempengaruhi nilai PDRB di kedua kabupaten tersebut menjadi sangat besar terhadap nilai PDRB Provinsi Kalimantan Timur. Kota Bontang sendiri tercatat nilai PDRB mencapai 58 milyar rupiah menduduki posisi ke lima, sedangkan posisi terendah di Kabupaten Mahakam Ulu dengan nilai PDRB sebesar 2 milyar rupiah.             

Namun jika kita lihat dari laju pertumbuhan ekonomi antar kabupaten/kota di tahun 2017 mengalami pertumbuhan yang positif dibandingkan  tahun 2016. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Timur di tahun 2016 mengalami pertumbuhan sebesar -0,36% dan kemudian meningkat di tahun 2017 sebesar 3,60%. Adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Timur dipacu oleh kembali membaiknya perekonomian di semua kabupaten/kota, hal ini dapat dilihat dari positifnya pertumbuhan yang positif di semua kabupaten/kota. Kenaikan pertumbuhan ekonomi ini di sebabkan adanya kenaikan produksi di sektor pertambangan yang sempat menurun di tahun sebelumnya. Kenaikan pertumbuhan yang cukup cepat adalah kabupaten Kutai Barat dari -0,81% di 2016 menjadi 3, 58%. Sedangkan pertumbuhan yang melambat di tahun 2017 adalah Kota Balikpapan sebesar 4,87% di tahun 2016 menjadi 3,78% di tahun 2017.

ULASAN POLITIK HUKUM DAN KEAMANAN

Politik Dalam Negeri dan PengawasanKeamanan, Ketertiban Masyarakat

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten/kota yang mempunyai fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Sejatinya, DPRD terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum. Berdasarkan Pemilu Legislatif tahun 2014, anggota DPRD Kota Bontang berjumlah 25 orang (2 perempuan dan 23 laki-laki) yang merupakan perwakilan dari 9 partai politik.

Dilihat dari latar belakang pendidikannya, sebagian besar dari wakil rakyat tersebut merupakan lulusan Strata-1, yaitu sebanyak 14 orang (56%), lulusan SMA/sederajat 7 orang (28%), lulusan Strata-2 sebanyak 3 orang (12%) dan sisanya 1 orang (4%) merupakan lulusan Diploma III.

Disamping kebutuhan sandang dan papan, kebutuhan akan keamanan juga merupakan hal yang terpenting. Terciptanya kondisi yang aman tanpa tindakan kriminalitas adalah dambaan setiap penduduk. Untuk itu pemerintah yang di representasikan oleh lembaga kepolisian memiliki peran untuk menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat. Berdasarkan catatan POLRES Kota Bontang, dari tahun 2015 ke 2017 berfluktuatif. Di tahun 2017 sendiri tercatat terdapat 155 kasus yang masuk ke POLRES, jumlah kasus ini menurun jika dibandingkan pada tahun 2016 yang sebanyak 408 kasus. Adapun dari jumlah kasus yang masuk di tahun 2017 sebanyak 123 kasus terselesaikan, pada tahun sebelumnya sebanyak 266 kasus terselesaikan. Indikator untuk melihat hasil kerja polisi dalam meningkatkan keamanan adalah dengan menghitung Crime Clearance Rate. Indikator ini menghitung seberapa besar tingkat kasus yang telah diselesaikan diantara kasus yang masuk. Adapun Crime Clearence Rate Kota Bontang pada tahun 2017 adalah sebesar 79,35 persen, yang pada tahun sebelumnya adalah sebesar 65,19 persen.

Adapun jenis kriminalitas yaitu kekerasan terhadap perempuan dan anak kurun waktu 3 tahun mengalami fluktuasi. Namun terjadi peningkatan pada jenis kekerasan pelecehan seksual yang dari tahun 2016 sebanyak 1 korban, pada tahun 2017 terdapat sebanyak 13 korban. Yang patut di syukuri adalah tidak adanya laporan ke kepolisian tentang kekerasan jenis pemerkosaan di dua tahun terakhir. Untuk penganiayaan mengalami penurunan kasus dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2017, jumlah tingkat pidana di Kota Bontang sebanyak 49 kasus. Hal ini mengalami penurunan yang sangat berarti, dimana pada tahun 2016 tercatat sebanyak 101 tindak pidana. Tercatat sebagian besar tindak pidana berasal dari wilayah kepolisian sektor Bontang Utara. Adapun persentase penyelesaian tingkat pidana menurut kepolisian sektor pada tahun 2017 adalah pada sektor Bontang Selatan dan Bontang Barat sebesar 68,18 sedangkan pada sektor Bontang Utara adalah sebesar 96,30 persen. Persentase penyelesaian tindak pidana menurut kepolisian sektor secara umum meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (2016).

ULASAN INSIDENSIAL

PagePages