Bontang Dalam Angka

<h2>Fancy accordion</h2>

Ulasan Bontang Dalam Angka Periode Th 2015
ULASAN PEMERINTAHAN

Keadaan PemerintahanPNS dan DPRDPertanahanTabel Tabel Data

Wilayah Kota Bontang terbagi menjadi 3 kecamatan yaitu Bontang Selatan, Bontang Utara dan Bontang Barat sejak disahkannya Perda Kota Bontang No. 17 Tahun 2002. Dengan jumlah RT masing-masing 201 RT, 212 RT, dan 93 RT. Secara keseluruhan di Kota Bontang terdapat 15 kelurahan. Kecamatan Bontang Selatan terdiriatas 6 kelurahan (Bontang Lestari, Satimpo, Berbas Pantai, Berbas Tengah, Tanjung Laut, dan Tanjung Laut Indah), Kecamatan Bontang Utara terdiri atas 6 Kelurahan (Bontang Kuala, Bontang Baru, Api-Api, Gunung Elai, Lok Tuan, dan Guntung), sedangkan Kecamatan Bontang Barat terdiri atas 3 Kelurahan (Kanaan, Gunung Telihan, dan Belimbing).

Banyaknya Pegawai Negeri Sipil yang tercatat pada tahun 2015 di Badan Kepegawaian Daerah Kota Bontang adalah 3.346 orang, dimana jumlah PNS terbanyak pada tahun 2015 berada di Dinas Pendidikan Kota Bontang yaitu sebanyak 1.206 orang. Sebagian besar Pegawai Negeri Sipil di Kota Bontang adalah golongan III (1.741 orang),
disusul golongan II yaitu sebanyak 997 orang. Banyaknya anggota DPRD Kota Bontang pada tahun 2014-2015 adalah 25 orang dan jumlah keputusan yang dihasilkan adalah 68 keputusan.

Jumlah sertifikat tanah yang dikeluarkan selama tahun 2015 sebanyak 616 buah, sedangkan jumlah sertifikat menurut permohonan pendaftaran tanah sebanyak 1.368 buah.

ULASAN PENDUDUK DAN KETENAGAKERJAAN

PendudukKetenagakerjaan

Sebagai sebuah kota yang sedang berkembang terutama dengan keberadaan dua perusahaan besar berskala internasional yakni PT. Badak NGL dan PT. Pupuk Kaltim, jumlah penduduk Kota Bontang senantiasa bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Pertambahan tersebut tidak hanya disebabkan faktor alami pertumbuhan penduduk yakni kelahiran dan kematian tetapi juga faktor lain yang tidak kalah pentingnya yakni migrasi. Jumlah penduduk Kota Bontang pada tahun 2015 adalah 163.326 jiwa, penyebaran jumlah penduduk di tiga kecamatan tidak merata seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni jumlah penduduk di kecamatan Bontang Selatan sebesar 64.368
jiwa sedangkan di kecamatan Bontang Utara adalah 67.004 jiwa dan di Kecamatan Bontang Barat 31.954 jiwa. Namun demikian, kepadatan penduduk Kecamatan Bontang Utara masih lebih tinggi dibandingkan kepadatan penduduk di Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat. Hal ini terkait dengan luas wilayah
masing-masing kecamatan. Kepadatan penduduk selama tahun 2015 di Kecamatan Bontang Selatan, Bontang Utara, dan Bontang Barat besarnya berturut-turut adalah 617 jiwa/km2; 2.557 jiwa/km2; dan 1.858 jiwa/km2. Sementara jika dilihat menurut jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki  (85.522 jiwa) masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan (77.804 jiwa). Hal ini berdampak pada besarnya rasio jenis kelamin yang merupakan perbandingan jumlah penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan. Jika dibandingkan keadaan tahun sebelumnya, besarnya rasio jenis kelamin pada tahun 2015 adalah 110 yang berarti bahwa diantara 100 orang penduduk perempuan di Kota Bontang pada tahun 2015 terdapat 110 orang penduduk laki-laki. Indikator kependudukan Kota Bontang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 penduduk yang datang sebanyak 6.583 orang, pindah 6.005 orang, kematian 430 orang, dan kelahiran 3.219 orang.

Ketenagakerjaan merupakan aspek mendasar dalam kehidupan manusia karena menyangkut dimensi ekonomi dan sosial. Dimensi ekonomi dalam hal ini berarti pemenuhan kebutuhan hidup manusia, sedangkan dimensi sosial berhubungan dengan penghargaan akan kemampuan seseorang. Mengingat pentingnya hal tersebut, maka sudah pantas jika setiap upaya pembangunan yang dilakukan selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan
kesempatan berusaha. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2015 di Kota Bontang adalah 78.895 orang atau sekitar 69% dari jumlah penduduk usia kerja. Angka ini juga menunjukkan besarnya partisipasi angkatan kerja (TPAK) yang berarti sekitar 69% penduduk usia kerja aktif secara ekonomi (bekerja).

ULASAN SOSIAL

PendidikanKesehatan dan KBAgamaKantibmasKemiskinan

Salah satu cara mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan formal mulai dari jenjang SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Pada tahun 2015 tidak ada penambahan jumlah sekolah baik SD, SMP dan SMA. Perbandingan atau rasio antara guru dan murid menggambarkan rata-rata jumlah guru yang mengajar di sebuah sekolah. Rasio ini menggambarkan ketersediaan
guru sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar pada sebuah sekolah. Ini penting diketahui karena ada relevansinya dengan terlaksananya proses belajar mengajar yang baik sehingga pada akhirnya mampu menciptakan bibit-bibit Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Pada tahun ajaran 2015/2016, setiap guru SD Negeri di Kota Bontang menangani 23 murid. Pada jenjang SLTP, rasionya 16 murid untuk setiap guru, sementara itu untuk tingkat SLTA setiap guru hanya menangani 13 murid.

Pada dasarnya pembangunan di bidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, merata, dan murah. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan, pemerintah berupaya meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka memeratakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah dengan penyediaan fasilitas kesehatan terutama puskesmas dan puskesmas pembantu karena kedua jenis fasilitas tersebut dapat menjangkau segala lapisan masyarakat hingga ke daerah terpencil. Jumlah fasilitas penunjang kesehatan yang ada di Kota Bontang pada tahun 2015 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang baik selain dengan menyediakan berbagai fasilitas kesehatan, juga melalui penyuluhan kesehatan, agar masyarakat dapat berprilaku hidup sehat.Diharapkan dengan penyuluhan ini penularan penyakit seperti diphteria, muntaber, kolera, dan demam berdarah, sebagai akibat dari sanitasi lingkungan yang buruk dan kebiasaan hidup yang tidak sehat dapat
dicegah. Salah satu dari sepuluh penyakit utama yang paling sering diderita masyarakat Kota Bontang selama tahun 2015 menurut hasil laporan Dinas Kesehatan Kota Bontang adalah penyakit pada saluran pernafasan bagian atas (22.508 penderita). Salah satu upaya menekan laju pertumbuhan penduduk adalah melalui Program Keluarga Berencana. Dengan jumlah anggota keluarga yang lebih kecil diharapkan keluarga akan menghasilkan SDM yang berkualitas. Namun demikian program ini tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran dan peran serta aktif dari
seluruh masyarakat Kota Bontang khususnya pasangan usia subur (PUS). Dari 32.569 pasangan usia subur (PUS) yang tercatat selama tahun 2015 dan 24.595 pasangan merupakan akseptor KB aktif. Sementara jenis alat kontrasepsi yang paling diminati PUS di Kota Bontang pada tahun 2015 adalah melalui suntikan (10.773 akseptor dari 24.595 akseptor aktif). Sarana KB terbanyak yang tersebar di Kota Bontang selama tahun 2015 adalah melalui Posyandu.

Berdasarkan catatan Kementerian Agama Kota Bontang, penduduk Kota Bontang pada tahun 2015 paling banyak memeluk agama Islam (146.906 jiwa), disusul Kristen Protestan (14.060 jiwa), kemudian Kristen Katholik (2.848 jiwa), Penganut Agama Hindu dan Budha masing-masing sebanyak 1.526 jiwa dan 110 jiwa. Banyaknya surat nikah yang dikeluarkan oleh Kementrian Agama Kota Bontang adalah 1.016 buku.

Pada 2015 telah terjadi 40 kecelakaan dengan jumlah korban 57 orang. Sedangkan jumlah pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah 14 orang dengan korbannya sejumlah 14 orang. Jumlah tahanan Polres Kota Bontang selama 2015 sebanyak 200 laki-laki dan 10 perempuan. Banyaknya perkara pidana yang diselesaikan oleh pengadilan negeri sebanyak 125 perkara, sedangkan perkara perdata sebanyak 22 perkara. Jumlah narapidana Kota Bontang pada tahun 2015 ini adalah sebanyak 137 orang.

Di Kota Bontang garis kemiskinan menunjukkan per kembangan yang semakin membaik, artinya secara relativ dapat kita katakan kemiskinan berangsurangsur berkurang dari tahun ketahun. Pada tahun 2010 hingga 2015 menunjukkan persentase yang terus menurun dari kisaran 6,67 % terus menurun hingga 5,06 % penduduk miskin dari total penduduk Kota Bontang. Sedangkan garis kemiskinan juga menunjukkan perkembangan yang semakin positif atau terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2010 berada pada kisaran Rp 313.718 dan pada tahun 2015 angkanya sudah menjadi Rp 479.060.

ULASAN PERTANIAN

Potensi pertanian tanaman pangan di Kota Bontang tidak terlalu menonjol, mengingat Bontang adalah daerah perkotaan. Selama ini Kota Bontang masih mengandalkan suplai bahan-bahan makanan dari daerah lain. Untuk tahun 2015 produksi padi di Kota Bontang mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 1.150,05 kwintal dengan luas panen mencapai 33 Ha. Potensi pertanian tanaman pangan di Kota Bontang tidak terlalu menonjol, mengingat Bontang adalah daerah perkotaan. Selama ini Kota Bontang masih mengandalkan suplai bahan-bahan makanan dari daerah lain. Untuk tahun 2015 produksi padi di Kota Bontang mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 1.150,05 kwintal dengan luas panen mencapai 33 Ha.

ULASAN PERINDUSTRIAN DAN ENERGI

PerindustrianEnergi

Banyaknya Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka industri kecil di tahun 2015 tidak mengalami perubahan jika dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 471. Sedangkan untuk Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan juga tidak mengalami perubahan jumlah unit usaha dari tahun sebelumnya. Di tahun 2015 tercatat ada 613 unit usaha dengan nilai investasi sebesar 21.372,518 juta rupiah. Gas alam cair merupakan komoditi utama yang menopang perekonomian Kota Bontang dari tahun ketahun. Pada tahun 2015 produksi LNG, yang dikelola oleh PT Badak NGL, mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2014. Tercatat produksi total LNG pada tahun 2015 sebesar 23.406.721 m3 dengan produksinya tertinggi sebesar 2.079.982 m3 pada bulan Juli 2015. Untuk nilai ekspor LNG tertinggi terjadi pada bulan November 2015 sebesar 1.967.502 m3. Total ekspor pada tahun 2015 sebesar 20.763.107m3. Komoditi unggulan di Kota Bontang setelah gas alam cair adalah pupuk. Pada tahun 2015 produksi ammonia (dapat dijual) PT Pupuk Kaltim tercatat sebanyak 1.087.077 ton, sedangkan produksi urea (curah dan kantong) sebanyak 3.340.343 ton. Sedangkan untuk penyaluran ammonia (dapat dijual) sebanyak 476.082 ton kedalam negeri dan 490.733 ton keluar negeri. Sedangkan urea (curah dan kantong) disalurkankan kedalam negeri sebanyak 2.214.915 ton dan keluar negeri sebanyak 714.794 ton.

Banyaknya energi listrik yang diproduksi Kota Bontang pada tahun 2015 adalah sebanyak 171.810.359 Kwh. Sedangkan banyaknya pelanggan pada tahun 2015 ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan ada penyambungan listrik baru dengan jumlah pelanggan sebanyak 54.679. Banyaknya air minum yang disalurkan selama tahun 2015 adalah sebanyak 7.313.699 m3, sedangkan banyaknya pelanggan PDAM selama tahun 2015 adalah sebanyak 21.364.

ULASAN PERDAGANGAN

Pada tahun 2015, banyaknya perusahaan di Kota Bontang Menurut Bentuk Badan Hukum adalah sejumlah 420 perusahaan. Sedangkan banyaknya usaha menurut kategori Perdagangan besar sebanyak 23, perdagangan menengah sebanyak 77 dan perdagangan kecil sebanyak 204. Sementara itu Kota Bontang memiliki sarana perdagangan seperti pasar umum sebanyak 3 tempat, dan toko sebanyak 265 tempat.

ULASAN HOTEL DAN PARIWISATA

Pada Tahun 2015 jumlah hotel di Kota Bontang adalah 25 yaitu terdiri dari 3 hotel berbintang dan 22 hotel melati. Jumlah ini mengalami penerununan dibanding tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2014. Dengan adanya pengurangan jumlah Hotel maka hal ini juga menyebabkan berkurangnya jumlah kamar dan tempat tidur.
Di Kota Bontang juga terdapat berbagai macam kesenian diantaranya : Seni Tari, Seni Suara, Seni Musik. Adapun setiap kecamatan memiliki gedung untuk kesenian.

ULASAN TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI

Panjang JalanPos dan Telekomunikasi

Panjang jalan di seluruh Kota Bontang pada tahun 2015 belum mengalami perubahan jika dibanding tahun sebelumnya, yaitu masih 203,492 km, terdiri dari 9,036 km jalan negara dan 194,456 km jalan kota. Untuk jalan kota 148,109 km dalam kondisi baik dan 46,347 km dalam kondisi sedang.

Di tengah maraknya penggunaan berbagai teknologi komunikasi modern saat ini, ternyata penggunaan jasa pos sebagai perantara komunikasi masih diminati oleh sebagian penduduk Kota Bontang. Pada tahun 2015 jumlah surat yang terkirim melalui Kantor Pos Kota Bontang sebanyak 57.437 surat yang terkirim dalam negeri dan 158 surat terkirim ke luar negeri sementara pada tahun 2014 sebanyak 23.730 pucuk surat, dan yang terbanyak adalah dengan menggunakan jenis pengiriman kilat khusus. Untuk paket pos yang dikirim tercatat sebanyak 191.365 paket, dengan tujuan pengiriman dalam dan luar negeri. Weselpos yang dikirim sebanyak 175.151 juta rupiah, sedangkan yang diterima adalah 22.594 juta rupiah.

ULASAN KEUANGAN DAERAH

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Bontang pada tahun 2015 sebesar 142,42 milyar Rupiah. Sumbangan terbesar Pendapatan Asli Daerah Kota Bontang berasal dari hasil pajak daerah, yaitu sebesar 52,52 milyar rupiah. Selama tahun 2015, banyaknya jaminan kredit dari penerima kredit Perum Pegadaian Kota Bontang sebesar Rp 213.945.880.000,-. Sedangkan banyaknya jaminan yang terlunasi sebesar Rp 86.018.310,-. Sedangkan jumlah nilai pelelangan pada tahun 2015 sebesar Rp. 6.606.620.000,-.

ULASAN PENGELUARAN PENDUDUK DAN KONSUMSI MAKANAN

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan di Kota Bontang pada tahun 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di Kota Bontang pada tahun 2015, pengeluaran per bulannya berada di antara 500.000 rupiah sampai dengan 2.000.000 rupiah. Rumah tangga dengan kelompok pengeluaran lebih kecil dari Rp. 500.000,- per bulan hanya sebesar 2,27 % atau 912 rumah tangga saja. Sedangkan yang kelompok pengeluaran lebih dari atau sama dengan Rp.4.000.000,- yaitu sebesar 5,00% dari total rumah tangga atau sebanyak 2.008 rumah tangga.
Hal ini merupakan salah satu dampak dari tingginya harga barang dan jasa di Kota Bontang, yang kebanyakan didatangkan dari luar wilayah Kota Bontang. Selain itu dari indikasi meningkatnya konsumsi penduduk Bontang secara garis besar juga menunjukkan peningkatan kesejahteraan dalam arti luas. Pada tahun 2015, komposisi pengeluaran makanan dan non makanan di Kota Bontang menunjukkan bahwa kondisi kehidupan masyarakat Kota Bontang sudah semakin baik. Hal ini dapat dilihat dari tingginya pengeluaran penduduk untuk konsumsi
non makanan. Konsumsi makanan pada tahun 2015 hanya 42,51 persen dari total pengeluaran. Sedangkan untuk konsumsi non makanan mencapai 57,49 persen. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan di Kota Bontang pada tahun 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di Kota Bontang pada tahun 2015, pengeluaran per bulannya berada di antara 500.000 rupiah sampai dengan 2.000.000 rupiah. Rumah tangga dengan kelompok pengeluaran lebih kecil dari Rp. 500.000,- per bulan hanya sebesar 2,27 % atau 912 rumah tangga saja. Sedangkan yang kelompok pengeluaran lebih dari atau sama dengan Rp.4.000.000,- yaitu sebesar 5,00%
dari total rumah tangga atau sebanyak 2.008 rumah tangga. Hal ini merupakan salah satu dampak dari tingginya harga barang dan jasa di Kota Bontang, yang kebanyakan didatangkan dari luar wilayah Kota Bontang. Selain itu
dari indikasi meningkatnya konsumsi penduduk Bontang secara garis besar juga menunjukkan peningkatan kesejahteraan dalam arti luas. Pada tahun 2015, komposisi pengeluaran makanan dan non makanan di Kota
Bontang menunjukkan bahwa kondisi kehidupan masyarakat Kota Bontang sudah semakin baik. Hal ini dapat dilihat dari tingginya pengeluaran penduduk untuk konsumsi non makanan. Konsumsi makanan pada tahun 2015 hanya 42,51 persen dari total pengeluaran. Sedangkan untuk konsumsi non makanan mencapai 57,49 persen.

ULASAN PENDAPATAN REGIONAL

Hingga saat ini sektor industri pengolahan migas masih merupakan andalan bagi pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bontang, dengan kontribusi sebesar 70,07% pada tahun ini. Pada tahun 2015 laju pertumbuhan PDRB (4,38)% (dengan migas) sedangkan tanpa migas sebesar 9,71 %. Penurunan laju pertumbuhan PDRB (dengan migas) seiring dengan penurunan produksi gas yang diolah oleh PT Badak NGL.
Sedangkan sektor ekonomi lainnya mengalami pertumbuhan diatas laju pertumbuhan agregat. Diantaranya adalah sektor Jasa Pendidikan sebesar 8,99%, sektor Pengadaan listrik dan Gas 28,61%, sektor Transportasi dan pergudagangan 2,45%, sektor Konstruksi 1,91%. Sementara itu sektor Pertanian, kehutanan dan perikanan mengalami pertumbuhan sebesar 6,09%, Laju pertumbuhan ekonomi Kota Bontang dari tahun ke tahun jika dilihat tanpa migas ternyata cukup berfluktuasi, dengan pertumbuhan, 15,62% tahun 2012, 8,64% tahun 2013, 3,70% tahun 2014, 5,86% tahun 2015.

PERBANDINGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA

Dengan jumlah penduduk Kota Bontang di pertengahan tahun 2015 sebesar 143.683 jiwa ternyata nilai kualitas manusia yang diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM), maka Kota Bontang merupakan yang tertinggi di Kalimantar Timur dengan indeks 78,78 selanjutnya disusul Kota Samarinda dan Balikpapan dengan indeks
78,69 dan 78,18. Jika dilihat dari segi kemiskinan yang dilihat melalui indikator jumlah penduduk miskin, di Kota Bontang terdapat jumlah penduduk miskin sebesar 8200 jiwa atau secara nominal lebih rendah dibanding kab/kota lain di propinsi Kalimantan Timur. Tercatat jumlah penduduk miskin paling tinggi terdapat di Kabupaten Kutai
Kertanegara sebesar 52.500 jiwa disusul oleh Kota Samarinda sebesar 36.600 jiwa. Dilihat dari segi perekonomian dimana laju pertumbuhan Kota Bontang baik dengan migas maupun dengan non migas mengalami pertumbuhan yang positif dibanding dengan kab/kota lainnya. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Bontang tahun 2015 dengan migas sebesar 3.44% dan tanpa migas sebesar 5,86%. Sedangkan pertumbuhan total kab/kota dengan migas -1,25% dan tanpa migas -1,49%.