Optimalisasi Kawasan Tanpa Rokok Kota Bontang

(Bontang, 5 Desember 2019). Pemerintah Kota Bontang difasilitasi Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar rapat koordinasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kamis (5/12/2019) pagi di Auditorium Taman 3 Dimensi Jl. Awang Long, Bontang Utara.

Rakor ini terkait implementasi kebijakan KTR Pemkot Bontang yang dituangkan dalam Perda Kota Bontang no. 5/2012 tentang KTR, dikuatkan dengan Perwali no. 56/2015 tentang Juklak KTR, Instruksi Wali Kota no. 3/2017 tentang Germas, dan Keputusan Wali Kota Bontang no. 369/2018 tentang pembentukan tim satgas KTR.

Diketahui, KTR merupakan kawasan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau.

Dalam arahan Wali Kota Bontang dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.Og, yang disampaikan Kepala Dinkes dr. Bahauddin, MM, menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, hingga saat ini merokok masih menjadi masalah nasional dan meluas dikalangkan anak dan remaja.

Sehingga, lanjutnya, perlu upaya penanganan yang secara terus-menerus karena menyangkut berbagai aspek terutama kesehatan.

“Masalah merokok telah menjadi semakin serius, mengingat merokok akan menimbulkan berbagai penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat terjadi baik pada perokok itu sendiri maupun orang lain di sekitarnya yang tidak merokok,” ujarnya.

Untuk itu, ia menekankan perlunya langkah penanggulangan diantaranya melalui penetapan kawasan tanpa asap rokok sebab pemerintah wajib memberikan perlindungan dan hak asasi lingkungan yang sehat.

Lebih lanjut, Wali Kota Neni berharap kegiatan ini dapat membawa nilai positif dalam peningkatan kualitas dan derajat kesehatan masyarakat di Kota Taman.

Sementara itu, hadir sebagai pembicara dalam Rakor Dr. dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.S, menjelaskan jumlah rata-rata perokok Indonesia sebanyak 12,4 batang setiap harinya. Berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, perokok aktif Indonesia mulai dari usia 10 tahun ke atas berkisar hingga 66 juta orang, atau 10 kali lipat dari total penduduk Singapura.

Selain itu, Riskesdas juga menyebutkan persentase usia perokok 10-14 tahun sudah 17,3 persen dan 56,9 persen usia 15-19 tahun. Kemudian usia 5-14 tahun 0,21 persen. Adapun sasaran iklan rokok adalah remaja sebagai perokok pemula (jangka mengkonsumsi rokok lebih panjang).

Lebih jauh, mantan Wali Kota Bontang dua periode ini membeberkan kendala dalam upaya berhenti merokok. Diantaranya faktor psikologis dan perilaku, dimana berhenti merokok bagi perokok merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan atau menyengsarakan secara psikologis. Juga faktor lingkungan sosial, yakni dipengaruhi oleh tidak adanya dukungan orang terdekat dan lingkungan yang tidak mendukung.

Hadir dalam rakor ini, kepala dan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), beberapa perwakilan sekolah, dan pemerhati kesehatan di Kota Bontang. (AG)

PPID Kota Bontang