Wali Kota Buka Erau Pelas Benua Guntung 2019, Wujud Komitmen Pemkot Bontang Melestarikan dan Mengembangkan Budaya

(Bontang, 3 September 2019). Mengenal festival budaya di Kelurahan Guntung, tak lengkap rasanya jika tidak menyebut Erau Pelas Benua. Kemeriahan pekan budaya Erau Pelas Benua 2019 kembali tersaji dalam rangkaian acara pembukaan, Selasa (3/8/2019) pagi.

Erau Pelas Benua Kelurahan Guntung merupakan salah satu pesta budaya masyarakat Kutai yang digelar sejak 2002 silam dan telah menjadi ciri khas serta agenda tahunan festival budaya di Kota Bontang.

Juga merupakan pesta pembersihan kampung yang bermakna bahwa kampung tidak hanya bersih dari unsur-unsur jahat, tetapi juga kebersihan bagi setiap jiwa baik yang tampak maupun tidak.

Rangkaian acara Erau Pelas Benua 2019 ini berlangsung hingga 8 September 2019 di panggung utama kampung adat Kutai Kelurahan Guntung. Berbagai ritual dan pertunjukan tari kolosal khas suku di Indonesia turut ditampilkan sebelum di buka secara resmi oleh Wali Kota Bontang dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.Og, dengan gelar Raden Pua Tonro Date.

Sebelumnya, Erau Pelas Benua 2019 diawali dengan acara Pelas Keliling dari rumah adat Kutai menuju kantor PT. Pupuk Kaltim, dilanjutkan ke pelabuhan Loktuan, kantor PT. Badak, dan berakhir di Rumah Jabatan Wali Kota Bontang.

Ketua panitia Erau Pelas Benua 2019 Bambang Darmawi, SE mengatakan maksud dan tujuan kegiatan ini merupakan upaya untuk melestarikan nilai budaya lokal agar tetap terjaga kelestariannya.

Selain itu, juga bertujuan memberdayakan dan meningkatkan kualitas warga Guntung dalam melestarikan nilai-nilai budaya, menghindari stigma yang kurang baik melalui partisipasi pemberian bantuan kepada masyarakat lokal, memberikan perlindungan terhadap tradisi daerah yang berkembang, dan mendorong pertumbuhan ekonomi warga Kelurahan Guntung.

Sementara, mewakili Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Penasihat Kesultanan Drs. H. Aji Pangeran Aryo Kusumo Putro menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemkot Bontang berserta masyarakatnya yang memberikan perhatian kepada warga Kutai serta mendukung penuh terlaksananya Erau Pelas Benua 2019.

“Ini merupakan salah satu upaya bagi kita untuk melestarikan khazanah budaya di Kalimantan Timur khususnya adat dan istiadat budaya Kutai di Kota Bontang,” ucapnya.

Ia mengajak agar pengembangan seni budaya khususnya budaya asli lokal harus dilestarikan dan ditingkatkan agar dapat menjadi daya tarik dan nilai jual pariwisata. Sebab, lanjutnya, industri pariwisata tidak akan tumbuh dan berkembang jika tidak dikemas dengan baik dan menarik.

“Karena even Erau Pelas Benua ini sebagai suatu budaya rakyat Kutai, selalu mempertunjukkan kepada kita bahwa betapa ragam dan kayanya budaya kita. Saya berharap agar ke depan even budaya ini terus ditingkatkan,”

“Marilah kita bersama-sama menjaga dan menaati ritual adat ini nantinya. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. taatilah aturan-aturan adat yang ditetapkan oleh para leluhur kita,” imbuhnya.

Senada, mengawali sambutannya Wali Kota Bontang menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas pelaksanaan Erau Pelas Benua ini.

Di bawah komandonya, pemerintah kota mempunyai komitmen yang tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkan budaya yang ada di Kota Bontang. Bahkan, Neni kembali menegaskan bahwa Komitmen ini tidak hanya untuk Erau Pelas Benua saja, namun komitmen yang sama juga diterapkan pada festival budaya lainnya, seperti Pesta Laut.

“Ini sebagai bentuk komitmen Pemkot Bontang dalam rangka memajukan, mengembangkan, melestarikan budaya. Karena siapa lagi yang akan menghormati budayanya kalau bukan kita,” tutur Neni.

Ia meyakini Erau Pelas Benua menjadi perekat untuk menjalin silaturahmi dan mempertahankan budaya. Terbukti, dari latar belakang suku di Kota Bontang ikut serta berpartisipasi dalam menampilkan berbagai jenis tarian khas daerah masing-masing pada festival budaya tahunan ini.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemkot Bontang akan mencanangkan kampung adat Kutai Guntung sebagai destinasi wisata budaya leluhur. Tahapan itu pun telah dimulai dengan upaya restorasi sungai Guntung Kanimbungan sepanjang 7 Km. Sehingga nantinya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan wisata kapal.

“Saya bermimpi Guntung ini suatu saat menjadi Venesia (kota di Italy) nya Indonesia. Tetapi mimpi ini sangat sulit diwujudkan apabila tidak didukung oleh masyarakat. Perilaku masyarakat sangatlah penting untuk kita bisa membangun dengan baik terutama membangun lingkungan,” imbuh Neni.

Usai itu, wali kota didampingi jajaran bersama rombongan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura beranjak menuju rumah adat Kutai untuk menyalakan Obor Brong dan pendirian Rondong Ayu dilanjutkan tari dewa-dewa sebagai pertanda dimulainya Erau Pelas Benua 2019. Dirangkai peletakan batu pertama pembangunan rumah singgah Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Dari pantauan tim liputan PPID, tampak hadir Mantan Wali Kota Bontang dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.S, dengan gelar Kutai Raden Pua Ado Daeng Sompah, Plt. Sekda drh. H. Agus Amir, M.Si, Wakil Ketua DPRD Sementara Kota Bontang Junaidi, anggota DPRD Agus Haris.

Selain itu, hadir pula Ketua TP-PKK Kota Bontang Hapidah Basri Rase, A.Md. Kep, kepala dan perwakilan OPD, pimpinan unsur Forkopimda, manajemen perusahaan, pimpinan Ormas, paguyuban suku, tokoh masyarakat, dan rombongan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. (AG)

PPID Kota Bontang