Cegah Kekerasan Terhadap Anak, DSP3M Kota Bontang Gelar Sosialisasi “Detektif Cekatan”

(Bontang, 12 Desember 2018). Disadari atau tidak, kekerasan terhadap anak kerap terjadi sekeliling kita baik kekerasan fisik, seksual, penganiyaan emosional, maupun pengabaian hak anak. Oleh karenanya, peristiwa kekerasan terhadap anak bukan hanya untuk diprihatinkan, namun diperlukan tindakan nyata yang mengedukasi masyarakat terkait pencegahan dan dampak buruk kekerasan terhadap anak.

Terkait hal itu, Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (DSP3M) Kota Bontang bekerja sama dengan PT. KNI Bontang menggelar Sosialisasi Deteksi dan Edukasi Informatif Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak (Detektif Cekatan) di lingkungan sekolah pilot project SMPN 9 Bontang utara, Rabu (12/12) pagi.

Bertempat di Balai Pertemuan Kelurahan Guntung, Jalan Enggang RT. 6, Bontang Utara, sosialisasi kali ini dipaparkan oleh tiga narasumber, yakni mantan Wali Kota Bontang dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.S, Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bontang Laela Siddiqah dan perwakilan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bontang. Sebelumnya telah dilaksanakan sosialisasi untuk sesi tenaga pendidikan serta peserta didik di SMPN 9 Bontang Utara pada Maret hingga Juli lalu.

Kepala DSP3M Kota Bontang Drs. H. Abdu Safa Muha, dalam laporannya menjelaskan sosialisasi tersebut berdasarkan undang – undang perlindungan anak nomor 23 tahun 2002 tentang perubahan atas uu nomor 35 tahun 2014, dan Perda Kota Bontang nomor 9 tahun 2012 tentang perlindungan terhadap perempuan dan anak korban tindak kekerasan.

“Data mengatakan bahwa salah satu tempat kekerasan tertinggi itu terdapat di sekolah, disadari atau tidak. Oleh sebab itu, kami merasa penting untuk melakukan sosialisasi,” tutur Safa Muha.

Sapa Muha menekankan bahwa kunci membangun budaya kesadaran dalam mencegah kekerasan tersebut adalah pemenuhan hak – hak anak. Menurutnya, kesadaran akan pemenuhan hak – hak anak dapat menjadi nilai budaya yang dengan sendirinya memunculkan tanggung jawab moral melindungi anak.

“Kalau kesadaran muncul, itu akan menjadi sesuatu nilai budaya yang nantinya tanpa ada komando lagi akan serta merta dan merasa memiliki tanggung jawab moral yang sama terhadap bagaimana melindungi anak – anak kita,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tindakan kekerasan terhadap anak bukan hanya tidak memenuhi hak – hak anak saja, namun pemberian hak – hak anak secara berlebihan juga termasuk dalam kategori kekerasan terhadap anak. “Selama ini kita kadang tidak menyadari, begitu sayangnya kepada anak bagaimana dampak yang kita lakukan apresiasi berlebihan itu pada akhirnya tidak disadari bahwa itu kekerasan,” ucapnya.

Sementara itu, Mewakili wali Kota Bontang, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kota Bontang Sofiansyah, S.Sos, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga sering kali tidak disadari oleh orang tua itu sendiri. Padahal, lanjutnya, anak merupakan aset terbesar yang dimiliki orang tua. Untuk itu, ia mengimbau agar pemenuhan hak – hak dilakukan dengan baik dan proporsional.

Dihadapan peserta sosialisasi, Sofiansyah menilai, kekerasan terhadap anak merupakan imbas dari pelampiasan orang tua akibat  kekerasan dalam rumah tangga yang bapak kepada ibu atau sebaliknya. sehingga Kekerasan itu pun akan membawa dampaknya akan berpengaruh buruk pada psikologi anak tersebut.

“Anak kalau sudah dimarahi orang tuanya, pelampiasannya ke teman – temannya, akhirnya anak ini menjurus hal – hal yang tidak kita inginkan,” pungkas Sofiansyah.

Tak hanya itu, Sofiansyah menambahkan, kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah juga harus menjadi perhatian pemerintah. Menangkal kekerasan dapat melalui penerapan metode belajar mengajar tanpa unsur kekerasan, pengayoman dan pengawasan pergaulan sesama peserta didik.

“Kita mempunyai aset (anak), hendaknya kita didik dengan baik dan jangan sekali – kali sudah mengukuti pelatihan ini, pulang kerumah coba lagi memusuhi anak dan mengerasi anak,” ucapnya.

Di akhir acara, diselenggarakan penandatanganan komitmen bersama terkait dengan pencegahan kekerasan terhadap anak.

Tampak hadir pada sosialisasi tersebut, Kepala dan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Bontang, Manajemen PT. KNI Bontang, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kota Bontang, unsur Forkopimda Kota Bontang, Kepala Sekolah dan dewan guru SMPN 9 Bontang Utara, Kepala Sekolah SMPN 6 Bontang Selatan, Ketua Komite SDN 004 Bontang Barat, Ketua RT sekelurahan Guntung, para wali murid, dan tokoh masyarakat.

PPID Kota Bontang